|
Fenomena Luweng Jomblang – Grubug Daya tarik kawasan karst batu gamping adalah karakteristik bentang alamnya yang mempunyai nilai keunikan dan kelangkaan. Bentukan positif yang berwujud kubah, kerucut dan menara karst dan bentukan negatif yang berwujud doline, uvala, sungai bawah permukaan, luweng, gua dengan speleothemsnya, yang tersusun dengan pola keruangan tertentu merupakan suatu kenampakan alam yang tidak dijumpai pada bentang alam lainnya. Bagi penelusur gua yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya tentu Gua Jomblang bukanlah nama yang asing lagi. Gua Jomblang merupakan salah satu gua favorit yang sering menjadi tempat “bermain”, hal ini dikarenakan gua ini memberikan fenomena keindahan misteri alam bagi penelusurnya. Gua ini memiliki potensi sebagai obyek wisata minat khusus penelusuran gua.
Gua Jomblang lebih dikenal dengan nama Luweng Jomblang – Grubug. Luweng merupakan sebutan orang jawa untuk gua yang berbentuk sumuran atau vertikal. Jomblang - Grubug dikarenakan gua ini memiliki dua entrance (mulut gua) yaitu Jomblang dan Grubug. Luweng Jomblang terletak di kecamatan Semanu ,Gunung Kidul , Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan salah satu gua batu gamping dari ratusan gua yang ada di gugusan kawasan karst Gunung Sewu dikenal juga dengan sebutan PaWonSari (Pacitan Wonogiri Wonosari). Penelusuran gua ini akan menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Siapapun terutama bagi yang pertama kali menuruni gua vertikal pasti akan tercengang. Penelusur akan melihat sebuah sumuran bak jurang yang menganga lebar dengan dasar yang tertutup oleh lebatnya tanaman yang tumbuh di dasar mulut gua. Ya...itulah mulut Jomblang. Akan timbul sebuah pertanyaan yang nantinya akan menjadi keraguan untuk menelus urinya. Yang menentukan tinggallah sebuah keyakinan dan keberanian untuk menguak misteri apa yang ada di dalamnya? Entrance Jomblang berdiameter 55 m dengan kedalaman sekitar 60 m. Berada di daerah yang datar dengan dikelilingi oleh ladang penduduk. Entrance Jomblang lebih sering dilalui oleh penelusur gua karena tidak terlalu dalam dibandingkan dengan entrance Grubug. Entrance Grubug terletak tidak jauh dari Jomblang sekitar 300 m . Untuk menuruni Luweng Jomblang bisa melalui beberapa lintasan yang dapat dipilih sesuai keinginan. Bagi yang berniat olahraga dapat melewati lintasan yang pitch-nya (kedalaman) antara 50 – 60 m. Tetapi ada satu lintasan yang sering disebut sebagai lintasan VIP karena pitch-nya hanya 25 m. Bagi penelusur yang ingin merasakan sensasi yang lebih dapat melewati entrance Grubug dengan pitch 80 m. Entrance dengan diameter 15 meter yang ditengahnya ditumbuhi sebuah pohon besar yang melintang, mengeluarkan suara yang bergemuruh seperti badai, grubug-grubug...., oleh sebab itu entrance ini oleh penduduk lokal disebut Luweng Grubug. Melongok ke entrance ini terlihat hanyalah dasar yang gelap dengan diselimuti biasan uap air yang terkena sinar matahari. Sehingga untuk menuruni Grubug dibutuhkan sebuah keyakinan yang besar karena atmosfir disekitarnya begitu mendebarkan. Penelusuran gua vertikal diperlukan keahlian penelusuran gua vertikal. Tehnik yang umum digunakan adalah Single Rope Tehnique (SRT) atau tehnik dengan menggunakan tali tunggal. Tehnik ini memungkinkan pergerakan descending (turun) dan ascending (naik) dengan aman. Peralatan yang digunakan haruslah sesuai standard dan kondisi layak pakai karena kegiatan penelusuran gua vertikal merupakan kegiatan yang high risk. Penelusaran dimulai dengan pemasangan lintasan diawali dengan pemilihan anchor (tambatan tali) yang bisa berupa anchor alami ( pohon, lubang tembus) maupun anchor buatan (spits/bor tebing). Menuruni Jomblang adrenalin akan meningkat karena kita akan terasa kecil dibandingakan mulut jomblang yang lebar, apalagi kita diposisikan hanya tergantung pada seutas tali. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan jika tidak mencobanya. Perasaan lega bercampur senang sekaligus heran akan muncul begitu kaki mendarat di tanah, ternyata pendaratan berada di antara pepohonan yang lebat seperti hutan belantara. Entrance Jomblang terjadi karena runtuh / ambrol (collapse break down) dan tumbuhan yang ada di permukaan terbawa ke dasar, telah diteliti beberapa diantaranya adalah jenis tanaman purba. Suasana gua masih belum dirasakan disini karena masih merupakan daerah yang masih disinari matahari (zona terang) Penelusuran dilanjutkan menuju lorong utama, akan dijumpai kon blok yang terbuat dari semen yang disusun menjadi jalan setapak. Lorong ini lebarnya sekitar 8 m dan tinggi 12m. Dilorong ini akan mulai terlihat perbedaan antara lorong yang terang dan yang gelap (zona senja). Suasana gua sudah mulai terasa, kondisi gelap total pun dapat dirasakan. Jika semua sumber cahaya dimatikan maka tangan di depan matapun tidak akan terlihat, maka mutlak harus membawa alat penerangan. Kegelapan ini tidak berlangsung lama, di kejauhan terlihat daerah yang terang. Begitu di dekati ternyata... inilah keindahan Jomblang-Grubug sebenarnya. Sebuah ruangan besar (chamber) yang diterangi oleh seberkas sinar masuk melalui lubang di atas gua yang merupakan entrance Grubug, memberikan fenoma alam yang indah luar biasa. Lubang cahaya ini dikenal dengan sebutan aven. Sinar matahari juga jatuh pada sebuah batu besar yang menjadi ornamen seperti petak – petak sawah berukuran kecil yang ditetesi oleh perkolasi (air yang merembes ke dalam tanah), akan semakin menambah keindahan pemandangan. Fenomena Jomblang-Grubug tidak hanya itu saja di bawahnya juga terlihat sebuah sungai bawah tanah yang mengalir dengan deras, sehingga menciptakan suara jeram air. Suara ini ditambah dengan adanya turbulensi lorong menciptakan suara yang bergemuruh yang dapat didengar di entrance Grubug. Menuju ke sungai bawah tanah harus dilakukan dengan hati-hati karena jalannya yang curam dan licin. Lorong sungai bawah tanah (lorong aktif) terbagi 2 cabang yaitu lorong yang melawan arus (up stream) dan lorong yang mengikuti arus (down stream). Penelusuran lorong aktif diperlukan keahlian yang lebih karena tingkatan medan yang lebih sulit. Penelusur harus sudah terbiasa pada lorong yang berair, karena 80% penelusuran dilakukan dengan berenang . Sehingga untuk awam sangat tidak dianjurkan untuk melanjutkan penelusuran di lorong aktif ini. Lorong up stream berakhir dengan genangan air yang tertutup oleh lorong yang disebut sump. Di lorong down stream akan menemukan dua buah air terjun. Air terjun pertama setinggi 10 m. Sensasi luar biasa kembali dirasakan turun dengan disertai percikan dan suara dari air terjun dalam suasana yang remang-remang.. Air terjun kedua setinggi 8 m. Air terjun kedua agak aneh karena airnya bisa berbelok menembus batu. Lorong down stream juga berakhir dengan sump. Air ini berasal dari sungai permukaan yang masuk ke gua Kali Suci, Gelatik, Buri Omah dan Jomblang-Grubug dan merupakan salah satu sistem aliran bawah tanah yang bermuara di pantai Baron. Sempat terlintas ironis sekali daerah Gunung Kidul di musim kemarau kekurangan air, ternyata di bawahnya mengalir sungai yang deras. Luweng Jomblang-Grubug mempunyai total kedalaman 161 m dan panjang lorongnya 2290 m. Penelusuran Luweng Jomblang-Grubug memang melelahkan tapi akan terobati oleh perasaan puas akan kesempatan melihat fenomena keindahan karya alam yang ada di dalamnya. Sebelum diakhiri penelusuran perlu diingat etika penelusuran gua : Take nothing but picture (jangan mengambil sesuatu kecuali gambar) Left nothing but foot print (jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki) Kill nothing but time (jangan membunuh sesuatu kecuali waktu) |